Israeli attacks on North Gaza, killing 27 people throughout the Gaza Strip
Serangan di Gaza Utara, Tewaskan 27 Orang di Seluruh Jalur Gaza
InseOffic - Serangan udara Israel di Jalur Gaza mengalami peningkatan signifikan dalam 24 jam terakhir, mengakibatkan tewasnya sedikitnya 27 warga Palestina dan melukai puluhan lainnya. Insiden ini menandai eskalasi terbaru dalam konflik berkepanjangan antara Israel dan kelompok-kelompok bersenjata Palestina di wilayah tersebut. Angka korban jiwa dikhawatirkan akan terus meningkat mengingat intensitas serangan yang masih berlanjut.
Sumber-sumber medis di Gaza melaporkan bahwa korban tewas terdiri dari campuran warga sipil dan pejuang, meskipun rincian pasti masih belum dapat dikonfirmasi sepenuhnya karena kesulitan akses ke lokasi-lokasi kejadian yang terkena dampak serangan. Rumah sakit-rumah sakit di Gaza melaporkan kekurangan tempat tidur dan pasokan medis akibat membludaknya korban luka. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan pernyataan keprihatinan terkait dampak kemanusiaan dari eskalasi kekerasan ini, dan mendesak semua pihak untuk melindungi warga sipil dan memfasilitasi akses bantuan kemanusiaan.
- Serangan Israel telah menewaskan 27 warga Palestina dan melukai 149 orang dalam periode pelaporan 24 jam terakhir, kata Kementerian Kesehatan Gaza.
- Ali al-Batran yang berusia satu bulan meninggal karena hipotermia di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa Gaza, sehari setelah saudara kembarnya meninggal karena penyebab yang sama, kantor berita Wafa melaporkan.
- Dr Hussam Abu Safia , direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara, ditahan di pangkalan militer Sde Teiman di Israel, demikian laporan CNN. Dokter tersebut ditangkap pada hari Jumat ketika pasukan Israel menyerbu rumah sakit tersebut dan membakarnya.
- Perang Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 45.541 warga Palestina dan melukai 108.338 orang sejak 7 Oktober 2023. Setidaknya 1.139 orang tewas di Israel selama serangan yang dipimpin Hamas hari itu, dan lebih dari 200 orang ditawan.
Serangan udara Israel menargetkan sejumlah lokasi di Gaza Utara, termasuk perkampungan penduduk, infrastruktur publik, dan yang diduga menjadi basis operasi kelompok-kelompok bersenjata. Tentara Israel (IDF) menyatakan bahwa operasi militer ini merupakan tanggapan terhadap peluncuran roket dari Jalur Gaza ke wilayah Israel dalam beberapa hari terakhir. IDF mengklaim bahwa serangan-serangan udara tersebut menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur yang terkait dengan kelompok-kelompok bersenjata, dengan menekankan upaya untuk meminimalisir jatuhnya korban sipil. Namun, klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen dan disangsikan oleh berbagai pihak yang menuding Israel melakukan pelanggaran hukum humaniter internasional.
Organisasi hak asasi manusia internasional telah mengecam keras serangan-serangan tersebut, mendesak penyelidikan independen dan akuntabilitas atas setiap pelanggaran hukum internasional dan kejahatan perang. Mereka menyoroti tingginya angka korban sipil dan kerusakan infrastruktur sipil yang diakibatkan oleh serangan udara tersebut. Beberapa organisasi mencatat pola serangan yang tampaknya tidak membedakan antara target militer dan warga sipil, sebuah praktik yang dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Pemerintah Palestina telah secara resmi melayangkan protes keras kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), meminta intervensi internasional untuk menghentikan serangan Israel dan melindungi warga sipil Gaza. Mereka juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk memberikan tekanan kepada Israel agar menghentikan kekerasan dan membuka akses bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
Eskalasi kekerasan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional. Situasi di perbatasan Gaza tetap tegang, dengan laporan tentang bentrokan bersenjata sporadis antara pasukan Israel dan kelompok-kelompok bersenjata Palestina. Kebuntuan politik yang berkepanjangan, blokade yang ketat terhadap Jalur Gaza, dan kurangnya prospek perdamaian jangka panjang telah menciptakan lingkungan yang rawan konflik, meningkatkan risiko eskalasi lebih lanjut.
Komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa, telah menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan untuk mencari solusi damai. Namun, peluang untuk mencapai gencatan senjata jangka panjang nampaknya masih sangat tipis di tengah atmosfir saling tuduh dan kurangnya kepercayaan antara pihak-pihak yang bertikai. Nasib warga sipil di Gaza tetap menjadi perhatian utama, sementara dunia menyaksikan dengan cemas perkembangan situasi yang terus memburuk. Dampak jangka panjang dari eskalasi ini, baik dalam hal korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur, masih belum dapat diprediksi secara pasti.

0 comments:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan bijak dan sopan, mari kita budayakan bertutur kata yang baik dan saling menghormati. Mohon maaf bila komentar Anda yang tidak memenuhi kriteria tersebut akan saya hapus. Bila Anda ingin memberikan saran, kritik, masukan yang membangun, dan memberikan tambahan materi bila ada kekurangan pada artikel yang sedang dibahas dengan senang hati saya persilakan, terima kasih.